Jl. Karang Taruna No.1, Semarang
LOGIN CMS
Beranda Berita
DAFTAR
UMKM

Dari Resep Akulturasi Candi hingga Jadi Icon Oleh-Oleh: Menelusuri Sejarah Panjang Lumpia Semarang

06 August 2026, 04:18 WIB | SA
Dari Resep Akulturasi Candi hingga Jadi Icon Oleh-Oleh: Menelusuri Sejarah Panjang Lumpia Semarang

SEMARANG — Setiap wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang hampir dipastikan tidak akan pulang dengan tangan kosong tanpa membawa besek berisi lumpia. Perpaduan rebung yang gurih manis dengan kulit renyah yang disajikan bersama saus kental, daun bawang, dan cabai rawit telah merajai deretan kuliner khas Nusantara. Namun, di balik kelezatan sepotong lumpia, tersimpan kisah cinta dua budaya yang telah berakar sejak akhir abad ke-19.

Sejarah lumpia Semarang bermula dari kedatangan Tjoa Tay Yoe, seorang pendatang asal Fujian, Tiongkok, yang bermukim di Semarang sekitar tahun 1870. Beliau mulai berjualan penganan khas daerah asalnya yang berisi daging babi dan rebung. Di tempat yang sama, seorang wanita Jawa bernama Wasih juga menjual penganan serupa, namun dengan isian yang disesuaikan dengan selera lokal, yakni daging ayam, udang, dan telur tanpa daging babi.

Bukannya bersaing ketat, hubungan perdagangan tersebut justru menumbuhkan benih cinta di antara keduanya. Tjoa Tay Yoe dan Wasih akhirnya menikah dan menyatukan resep dagangan mereka. Perpaduan resep Tionghoa-Jawa ini menghasilkan rasa lumpia yang unik: gurihnya olahan telur dan udang berpadu manisnya rebusan rebung, dikemas rapi dalam gulungan tepung tipis. Resep kompromi rasa ini sangat mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Semarang yang multikultural.

Usaha pasangan ini berkembang pesat dan pertama kali dijajakan di kawasan Oen Tiong Ham Kian (kini area Pasar Johar) sebelum akhirnya menetap di Jalan Pemuda, kawasan Gang Lontar (sekarang dikenal sebagai kawasan Mataram dan Kranggan).

Seiring berjalannya waktu, tradisi membuat lumpia diturunkan ke anak-cucu mereka. Memasuki era pertengahan abad ke-20, anak-anak dari generasi pendiri mulai membuka cabang tersendiri yang kelak melahirkan dinasti kuliner lumpia terkenal di Semarang. Beberapa di antaranya yang terus melegenda hingga kini adalah Lumpia Mbak Lien, Lumpia Gang Gang Lontar, Lumpia Pemuda, hingga Lumpia Mataram.

Kini, lumpia tidak sekadar menjadi hidangan kudapan sore warga lokal, tetapi telah bertransformasi menjadi identitas utama pariwisata Kota Semarang. Kemasan wadah bambu (besek) atau besek susun kekinian menjadi daya tarik utama bagi para pelancong untuk membawanya kembali ke kota asal sebagai buah tangan.

Warisan kebudayaan ini pun mendapat pengakuan resmi pada tahun 2014, ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkan Lumpia Semarang sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Penetapan ini semakin mengukuhkan bahwa gurihnya lumpia bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol keharmonisan dan akulturasi budaya yang lestari melintasi zaman.

Bagikan: